PANCASILA, PENYELAMAT BANGSA - REDAKSIRIAU.COM

Breaking

Saturday, 21 April 2018

PANCASILA, PENYELAMAT BANGSA


Dinamika berbangsa dan bernegara di negeri ini selalu saja berada pada tensi tinggi menjelang konstalasi pergantian presiden. Terlebih pemilu serentak yang digadang-gadang akan menjadi “pesta demokrasi” yang semakin meriah dan menghasilkan pemimpin bangsa dari pusat sampai daerah yang lebih baik.

Mencermati sistem demokrasi ini nampaknya semakin hari harus semakin meningkatkan kesadaran dengan membuka mata yang tajam tentang realita yang ada. Penulis mencermati beberapa hal yang semoga dapat menjadi renungan kita bersama dalam menemukan solusi untuk tumbuh menjadi bangsa yang lebih baik.

1.Bhinneka Tunggal Ika
Berbeda-beda tapi tetap satu. Jelas ini sudah terbukti sebuah filosofi yang mulia yang paling sesuai dengan kondisi bangsa kita. Dengan keanekaragaman suku,bangsa dan agama serta bahasa, semboyan ini harus terus ditanamkan agar kita menyadari apapun perbedaan kita, kita adalah satu bangsa, Bangsa Indonesia.
Ironi memang ketika para pemimpin negeri ini justru mencontohkan makna kata perbedaan dalam bentuk kendaraan kepentingan. Kendaraan hasrat berkuuasa bernama partai politik. Rakyat disuguhkan tentang berbagai perbedaan parta, perbedaan platform, perbedaan warna. Namun secara tersirat disuguhkan satu tujuan : berkuasa. Ironi memang, partai politik yang harusnya menjadi pelopor pendidikan ber-Bhinneka Tunggal Ika justru menjadi pelopor perpecahan dan perbedaan demi tujuannya. Demi kepentingan partainya. Bukan demi kepentingan rakyat.

2.Perpecahan & Permusuhan
Menjelang pemilu, aah sepanjang perjalanan pemerintahan, selalu saja terjadi kehidupan saling hujat dan saling hina. Saling cemooh dan saling menyalahkan. Tidak ada lagi sikap “jantan” untuk menghormati mereka yang berbeda. Lihatlah.. Apapun selalu menjadi obyek berita yang heboh untuk menyerang lawan. Dari pesawat kepresidenan yang rencananya diperbolehkan digunakan oleh petahana dalam kampanye, petinggi partai yang sibuk sampai lupa bayar listrik dan banyak lagi.
Lihatlah.. ironi kehidupan ini yang ditimbulkan dari demokrasi agung yang salah kaprah. Kita sehari-hari bersikap sebagai lawan. Bukan kawan. Kita tidak lagi menjadi “Persatuan Indonesia”. tapi kita lebih banyak hidup menjadi Golkar, PDI-P, PAN,PKSGERINDRA, ,NASDEM,Demokrat, dan lain-lain.

3.PANCASILA BERDAULAT, BANGSA SELAMAT
Kita sudah memiliki pusaka super hebat yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa melalui para pendiri bangsa, bernama PANCASILA. Kita sudah bersepakat dan menetapkan Pancasila sebagai dasar negara kita. Maka jawaban dari seluruh carut marut bangsa ini hanya satu : PANCASILA.
Mari menjadi bangsa yang Berketuhanan Yang Maha Esa
Menjadi bangsa yang taat dan patuh menjalankan nilai-nilai agama yang diyakininya. Menjalani dan mengamalkan kebaikan yang diperintahkan agamanya. Menjaga nilai-nilai perdamaian dan persaudaraan seperti yang diajarkan agama manapun.

Mari menjadi bangsa yang Adil dan Beradab.
Menjadi bangsa yang patuh pada hukum, menjadi bangsa yang adilbersikap kepada siapapun. Menjadi bangsa yang beradab, yang tidak membiarkan hal-hal yang tidak adil dan tidak beradab tumbuh di negeri ini.

Mari menjadi bangsa yang Bersatu.
Menjadi bangsa yang apapun perbedaan kita, tetap kita singkirkan demi persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Apapun partainya, apapun warna kulitnya, kita tetap satu, Indonesia.

Mari menjadi bangsa yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Mari pilih wakil-wakil rakyat yang benar-benar berjuang untuk rakyat. Mari menjadi wakil rakyat yang benar-benar berjuanga untuk rakyat. Mari bermusyawarah, bukan bersaing. Maring bersama-sama memilih pemimpin yang bijaksana. Mari saling menghormati perbedaan dalam berpendapat namun tetapmencari yang terbaik untuk rakyat. Mari hidupkan kembali gotong royong.
Karena one man one vote bukanlah kemuliaan final.
Hak berdemokrasi dengan memilih langsung tidaklah hak yang begitu mulia untuk diperjuangkan dengan darah dan nyawa. Hak berdemokrasi dapat diwakilkan oleh mereka yang kita percayai. Toh one man one vote telah melahirkan GOLPUT yang tinggi. Melahirkan perselisihan dan permusuhan.
Mari kembali kepada nilai Pancasila. Pemilihan pemimpin kita dilakukan oleh musyawarah wakil-wakil rakyat.

Mari menjadi bangsa yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Menjadi bangsa yang saling peduli, saling tolong menolong. Menjadi bangsa yang saling peduli dengan lingkungan. Menjadi bangsa yang selalu rela membantu kesulitan orang lain. Menjadi bangsa yang mandiri yang mampu berbuat baik kepada bangsa sendiri. Mari menjadi bangsa yang membela bangsa sendiri. Bukan menjadi bangsa yang membela kepentingan bangsa lain.
Banyak pemuda bangsa ini yang masih menganggur, maka jangan datangkan pekerja asing dengan kualifikasi yang dimiliki bangsa sendiri..

Kiranya, inilah hal yang penulis cermati. Tentu banyak argumen dan ulasan lain yang penting. Tentu ada argumen dan pandangan lain yang tidak kalah serunya. Mari saling memperkaya dengan berbagi pandangan dan ilmu. Untuk membangun kebaikan bersama demi Bangsa Indonesia.
Mari menjadi bangsa yang berdaulat..
Dengan menegakkan DASAR NEGARA.... PANCASILA
Karena.....
PANCASILA BERDAULAT... BANGSA SELAMAT....

Salam.

Johar Mukarrom
Pemimpin Redaksi Portal Berita Redaksiriau.com, Motivation Trainer, Franchise Strategic Partners, Mantan Sekretaris Pusat Study Ketahanan Nasional, Pemerhati Kebijakan Politik, mantan  Investigator Lembaga Perlindungan Konsumen, Mantan Bendahara Lembaga Penyelamat Lingkungan Hidup Indonesia Kawasan Laut, Hutan dan Industri (LPLHI - KLHI) Provinsi Riau.

No comments:

Post a Comment